Kepulangan ke rumah harus tertunda, ketika pimpinan kantor meminta seluruh tim rapat mendadak. Namun bukan pentingnya rapat ini yang ingin kuceritakan, bukan pula isi dan serunya rapat yang memakan waktu cukup lama hingga larut. Adalah sepuluh menit menjelang rapat dimulai, saat aku memesan semangkuk bakso kepada tukang bakso langganan di depan kantor. Sesaat menjelang rapat, perut ini terasa berdendang minta diisi. Makanan itulah yang menjadi pilihan, satu porsi pun terpesan.
Panggilan pun datang, rapat dimulai. Rapat dilanjutkan usai sholat Maghrib, dan terus berlangsung. Ada yang resah di bawah, ada yang bolak-balik masuk ruang kantor. Ianya hanya menemukan mangkuk kosong diatas meja kerjaku. Setiap lima menit kembali balik ke dalam kantor berharap orang yang tadi memesan bakso nya sudah ada di tempat. Ternyata yang ditunggu masih di atas, terlupa oleh riuh rendah suasana rapat yang bersemangat.
Waktu terus bertambah, hingga seorang teman yang baru saja dari lantai dasar berbisik, “Sudah bayar bakso belum?” astaghfirullah…
Tak menunggu rapat selesai, acung tangan langsung bergegas ke bawah. Terhenti nafas ini tak mendapatkan orang yang dicari; si tukang bakso. Melirik sedikit keatas meja, mangkuk kosongnya sudah tak ada. Mungkin ia pulang, tapi aku tak bisa berkata apa-apa sambil terus menggenggam uang lima ribuan di tangan.
Cuma lima ribu memang. Tapi ia sebegitu pentingnya untuk bolak-balik ke dalam kantor berharap aku akan membayarnya. Terbayang betapa berat langkah si tukang bakso mendorong gerobaknya. Berpikir ia tentang uang belanja yang dinanti sang isteri, resah hatinya tak membawa mainan yang dipesan anak tercintanya. Mungkin semua karena lima ribu yang belum ku bayarkan. Dan boleh jadi, lima ribu itulah keuntungan hasil jualannya setelah disisihkan untuk setoran.
Berat langkah si tukang bakso. Itu terus tergambar dalam benakku, sambil terus menggenggam uang lima ribuan dan sesekali melirik ke atas meja, terbayang sedihnya sang isteri lantaran suaminya tak membawa uang belanja untuk esok, “Mau makan apa besok, pak?” Terlintas tangisan si anak yang mendapati bapaknya tak membawa serta mobil mainan plastik yang dipesannya. Bagaimana jika besok ia tak bisa berdagang karena uang setorannya kurang malam itu? Ya Allah, berdosa lah hamba mu ini…
Tak lebih dari setengah jam, seseorang masuk ke dalam kantor. Senyumnya yang khas menyapa lembut, “Eh Mbak, rapat nya udah selesai ya?” tanyanya, aku tahu yang dinantinya. Sudah semalam ini, duh… ternyata betapa pentingnya uang lima ribu itu baginya. “Maafkan saya ya mas..,” nyaris bibir ini tak mampu berucap apa pun….